Rabu, 16 November 2011

Refleksi Peran Perguruan Tinggi Sebagai Pusat Peradaban


Pertama sekali ketika kita mendengar kata kampus maka yang terlintas dalam benak kita adalah disinilah dilakukan proses belajar dan mengajar yang mengajak manusia pada penggalian ilmu. Penggalian ilmu yang lebih dalam untuk melahirkan para pemikir-pemikir cerdas. Sehingga keluarla manusia superpower dengan kemampuan intelektualnya. Pertanyaan itu kembali terlemparkan setelah beberapa waktu akhir-akhir ini. Ternyata itu hanya bayanagan belaka bahwa hari ini kampus tidak seindah seperti apa yang perna dibayangkan. Sejarah telah membuktikan bahwa orang-orang besar dinegeri dilahirkan dari kampus, bagaiamana seorang Soekarno, Hatta, Natsir, dan kawan-kawan lainya mereka adalah orang-orang besar yang dilahirkan dan dibesarkan dirahim kampus. Sesungguhnya bahwa kampus diibaratkan adalah sebuah Etalase besar yang akan melahirkan para pemikir yang mempunyai kekuatan daya krirtis yang tinggi. Sehingga muncul manusia-manusia hebat yang bejiwa social tinggi dan peduli.
Teori post modern yang pernah di kemukakan oleh cartenesian memang betul. Bahwa perubahan adalah kepastian dan tidak bisa dihindari. Begitu juga dengan perilaku dan keingin manusia juga bervariasi sekali. Dunia kampus akan bermetamorfosa sesuai dengan zamannya. Bagaiman hari ini kemajuan zaman sudah tidak bisa lagi dbendung. Bagaiman dengan mahasiswanya? Sungguh heran jika hari ini bahwa kampus tidak ubahnya seperti Stasiun Televise yang siap menayangkan berbagai macam tampilan acara. Kampus sekarang tidak ubahnya seperti tempat pameran,bazaar,  Mall, Pashion Show. Yang kemudian siap menanyngkan berbagai jenis motif manusia dari zaman baholak (pra sejarah) samapai pada zaman jenis manusia planet turun kebumi. Tontonan aneh sekrang berlaku gratisan dikampus. Tanpa biaya kita bisa melihat semua ragam jenis mahluk halus dan kasar dikampus (mahasiswa).misalnya hari ini perguruan tinggi sebagai tempat tempat promosi dan pamer Harta kekayaan. Mobil, handphone, Perhiasaan, Pakaian semua Bentuk barang baru bisa dijumpai dikampus. Yang lebih hebat lagi Dengan bangganya kita memamerkan barang barang2 yang dproduksi oleh kaum kapitalis humanis. Kampus dijadikan sebagai ajang untuk menunjukan harta kekayaan yang dimilki. Memamerkan segala yang dmiliki termasuk harga diri juga di pamerkan disana. Bagi yang gk punya biaya bisa dating aja kekampus terdekat. Agar bisa menikmati  tontonan gratis.
Belajar yang sesungguhnya seperti apa sich? Apakah kita hanya diajarkan bagaimana untuk mengejar untuk mendapatkan nilai A dengan mengahalalkan segalah cara. Apakah kita hanya diajarkan hanya untuk mengerjakan laporan praktikum bermalam-malam, apakah dengan seenaknya dosen kita hanya mampu mengajarkan mengerjakan tugas yang banyak untuk mengejar waktu. Dosen yang tercinta kita tidak lagi mengajak kita untuk berpikir besar,,,,, mereka hanya mengajarkan bagaimana untuk menjadi para pelajar  yang hanya membesarkan otot bukan membesarkan otak, kita hanya dipersiapkan hanya untuk menjadi para pekerja-pekerja yang handal ketika tamat kuliah. Kita dijadikan manusia yang hannya siap untuk menjadi tipe para pencari pekerja yang bermodalkan ijaza yang fiktip dan penuh dengan kedustaan. Nilai yang tertera ditranskrip nilai adalah hasil perjuangan contoh dan menyontek,,dosen kita kebanyakan memberikan bekal kepada seorang sarjana yang kemudian dibesarkan dengan cara-cara yang tidak sehat. Sehingga lahirla para sarjana Premature.  Mahasiswa yang dajarkan  bagaimana cara menyontek yang baik. Lalu kemudian mahisiswa di dilatih menjadi para mesin-mesin yang siap lembur 24 jam. Dbilik lain mahasiswa terkadang juga tak punya tempat lagi untuk mengasah katajaman intelektualnya. Bagaimana tidak jika sang dosen tercinta yang lebih sibuk untuk menjadi Hunter Rupiah.bermental bisnis sehingga kasian sekali dengan mahasiswa yang harus ditinggalkan karena kesibukan diluar kampus. Sehingga kewajiban mengajar pun tak lagi diindahkan. Jika proyek dluar gak subur lagi maka bisa jadi mahasiswa juga bisa dijadikan mesin bisnis.
Jika kondisinya seperti itu maka kadang timbul tanda Tanya Mau dibawa kemana bangsa ini oleh anak-anak bangsa ini. Dijerman Teringat ketika kekejaman nazi dengan diktatornya seorang Hitler membantai jutaan masyarakatnya. Kemudian dengan colonial belanda menjajah bangsa Indonesia 300 tahun lebih, kampus sering diistilahkan sebagai miniature bangsa. Awalnya kita melihat sebuah kebrobrokan bangsa ini adalah keselahan yang dilakukan oleh pelaku Negara, kampus yang semestniya adalah bagaimana mengajarkan dan menjalankan konsep-konsep yang ideal.yang tidak hanya berbicara tentang teori belaka tapi sinkronisasi antara teori dan praktek yang sesungguhnya. Tapi sekarang semua itu jauh dari harapan dan kenyataan. Hari ini dosen hanya bisa berteori ria berpikir sok idealis dan sempurna, padahal sesungguhnya mereka sebagian besar para praktikum-praktikum yang jauh dari apa yang mereka ajarkan. Mereka yang menggaungkan konsep kemerdekaan manusia tapi malah sebaliknya praktek kekejaman dan penjajajahn di dunia pendidikan mereka juga yang melakukannya. Bagaimana tidak mereka mengajarkan dan memaksakan kepada mahasiswa hanya untuk menjalankan apa yang mereka kehendaki. Memberikan tugas dengan seenaknya tanpa berpikir apa tugas ini penting atau tidak. Masuk kulia dengan mengatur waktu sekehendak mereka tanpa memperhatikan kondisi mahasiswa. jual beli buku, jual beli nilai. Dahulu para colonial menggunakan senjata dan tangan besia untuk membredel masyarkat. Ternyata dosen juga punya senjata untuk menjajah mahasiswa. Senjatnya adalah nilai. Dengan nilai meraka mengotak atik mahasiswa yang berpikir kritis. Misalnya ada kebijakan kampus yang tidak berpihak kemahasiswa ketika ada yang mencoba untuk meneteng maka senjata sang dosen adalah dengan ancaman nilai. Inilah bentuk-bentuk praktek-praktek penjajahan didunia pendidikan.
Jika rusaknya generasi muda sekarang maka tunggula kehancuran Negara ini, sadar-tidak sadar bawha kita la yang akan menyambut estapet negeri ini kedepan. Setiap tahun rata kampus negeri meluluskan mahasiswa seribu orang. Jika dikalkulasikan maka seribu orang inilah yang akan berkompetisi utuk mencari kerja. Ada sisi lain yang juga merupakan menghilangkan orientasi mahasiswa sekarang. Petama masuk kampus di perkenalkan dengan penyimpangan-penyimpangan soaial. Kegiatan ospek yang tak memanusiakan manusia, lucu sekali jika kita lihat di zaman sekarang seorang calon intelektual ketika masuk ke kampus lalu kemudian dperkenalkan dengan bentuk kekerasan. Penjajahan mental, penindasan, penganiayaan yang semua itu diajarakan dan diwariskan turun menurun oleh sang senior. Sempat terlintas juga kok calon intelektual disambut dengan kekerasaan. Apa kegiatan ini mempersiapakan para preman-preman yang bertopeng intelektual ya!! Padahal tak ada satu kajian keilmuan pun yang mengatakan ada proses pencerdasan dengan ospek gaya para kanibal. Atau mungkin bisa juga dinamakan senbior kayak gini bisa juga dinamakan kanibal kampus. Karena kerjanya menyusahkan para mahasiswa baru dengan alas an penyesuaian dan pengenalan kampus. Tak ada nilai-nilai intelektual sama sekali yang ada hanya pembodohan. Mereka semua  mengKemas praktek-praktek premanisme itu dengan  kegiatan yang dbungkus dengan Keakraban, Kemah bakti sosail dan Sejenisnya.
Wajar jika  setelah dikampus mahasiswa baru ini l menjadi kehilangan prientasi siapa dirinya sesungguhnya. Apa kewajibanya terhadap orang tua, bangsa dan negaranya.
Begitu banyak bentuk penyimpangan social didunia kampus hari ini. Sistem sks yang yang begitu ketat, laporan praktikum yang menumpuk, tugas yang bejubel. Ternyata kesemua itu telah mengubah pola hidup mahasiswa secara tidak langsung. Kesibukan membuat laporan yang terkadang sangat susa sekali bagi mereka untuk membedakan mana siang dan malam. Demi perjuangan untuk mendpatkan nilai dari sang dosen yang tercinta yang memaksa mahasiswa untuk membuat laporan praktikum yang setinggi gunung. Waktu 24 jam terkadang dirasa kurang untuk semua itu. Kita tidak sadar bahwa terkadang kita telah menghilangkan sisi kemanusiaan dilingkuangan kita. Sehingga gara-gara laporan yang begitu banyak membuat muka kita seperti penilid lapora, tugas praktikum memcahkan rumus-rimus yang tak pernah dipakai ketika dalam kehidupan kita. Kesibukan inilah demi mencari aman untuk dapat nilai yang bagus, akhirnya telah mempuk sikap individualime mahasiswa.  Bagaimana tidak mereka tak punya waktu dan ksesmpatan untuk kemudian berinteraksi dengan lingkungan karena harus mengejar menyelesaikan laporan tersebut. Mereka melupakan bahwa sesungguhnya mereka berada hidup dilingkungan masyarakat. Sungguh menyedihkan para calon pemimpin bangsa ini mempunyai jiwa individualimse. Yang menjauhkan mereka pada sisi-sisi kehidupan bermasyarakat. Sikap individualisme ternyata juga telah menhilang daya intelektual,kritis dan kepekaan social/sense social terhdapa lingkunga. Bagaimana bahwa masyarakat diluar sana menantikan gerakan moral dari mahasiswa. Mereka lupa bahwa kedzaliman dan ketidak adilan telah merajalelah diluar sana. Siapa lagi yang akan memperhatikan nasib bangsa ini. Mengapa kemiskinan, korupsi dan ketidak adilan merajalela di negeri ini karena memang orang-orang baik hanya berdiam diri saja.  Maka Mereposisi peran dan fungsi kampus sebagai basis keilmuan dan teladan praktek social adalah sebuhan keharusan.
Percepatan pembangunan tidak akan lepas dari pengaruh pendidikan. Kemajuan bangsa ini maka posisi startegis bahwa perguruan tinggi ada didalamnya. Menjadikan menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat perdaban, artinya semua aspek pembangunan merupakan tanggung jawab perguruan tinggi. Bagaimana perguruan tinggi mestinya dapat menjadi pijakan awal terhadap teori-teori pemangunan. Di lain hal perguruan tinggi akan menjadi lebih bermakna ketika di hadirkan sebagai pondasi yang mengkaji dan mengahsilkan data akurat yang dapat dipergunakan dalam upaya percepatan pembangunan. Tapi semua itu sekarang menjadi lemah dan jauh sekali. Sudah kewajiaban perguruan tinggi untuk mejadi garada terdepan sebagai lembaga slotif atas semua permasalahan yang ada. Lalu kemudian peran perguruan tinggi selain sebagai pusat pendidikan tapi juga perduruan tinggi memiliki peran yang lebih. Agar mewujudkan  tri darma perguruan tinggi yang bergarak sebagai lemabga pengakajian, penalaran, pengabdian. Kondisi ini bisa menjadi bahan pebincangan ilmiah dikalangan disemua kalangan lapisan masyarakat. Terutama pemerintah dan pihak perguruan tinggi itu sendiri.    

KEPEMIMPINAN TRANFORMASIONAL


Menurut saya kepemimpinan transformasional merupakan sebuah proses dimana para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-nilai moral seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi seperti keserakahan, kecemburuan atau kebencian. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab yang justru nilai seperti ini hal yang sangat sulit ditemui di Indonesia.
 Krisis kepemipinan yang terjadi di Indonesia, dengan berbagai permasalahan dan keluhan berkaitan kepemimpinan. Pemimpin-pemimpin di Indonesia sekarang lebih banyak sebagai pemimpin transaksional saja, dimana jenis kepemimpinan ini memotivasi para pengikut dengan mengarahkannya pada kepentingan diri pemimpin sendiri, misalnya para pemimpin politik melakukan upaya-upaya untuk memperoleh suara. Jenis pemimpin transaksional ini sangat banyak di Indonesia, hal ini bisa kita perhatikan pada saat menjelang pemilihan umum, rakyat dicekoki dengan berbagai janji setinggi langit agar pemimpin tersebut dipilih oleh rakyat, bahkan ada yang disertai dengan imabalan tertentu (money politic). Namun sungguh disayangkan ketika pemimpin tersebut terpilih ternyata sangat banyak janji ketika pemilu tidak bisa direalisasikan.

Seorang pemimpin transformasional dapat diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin tersebut dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya diharapkan terhadap mereka. Seorang pemimpin transormasional memotivasi para pengikut dengan membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil pekerjaan, mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau negara daripada kepentingan diri sendiri dan mengaktifkan (menstimulus) kebutuhan-kebutuhan mereka yang lebih tinggi.

Kepemimpinan transformasional mencakup beberapa komponen, yaitu kharisma, stimulasi intelektual, dan konsider individual, sumber inspirasi, serta idealisme. Kharisma dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dimana seorang pemimpin mempengaruhi para pengikut dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat dan identifikasi dengan pemimpin tersebut. Stimulasi intelektual adalah sebuah proses dimana para pemimpin meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalah-masalah dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang masalah-masalah dari prespektif yang baru. Perhatian yang diindividualisasi termasuk memberikan dukungan, membesarkan hati dan memberi pengalaman-pengalaman tentang pengembangan diri kepada pengikut. Serta pemimpin tersebut mampu menjadi inspirasi dan ide dalam berbagai kegiatan, proses, dan tanggung jawab.

Dimensi kepemimpinan taranformasional tersebut akan berdampak baik terhadap komitmen masyarakat terutama kepemimpinan efektif, dan ini tentunya juga memengaruhi motivasi kerja masyarakat. Perilaku kepimimpinan yang memiliki visi dan misi yang jelas dan menarik, menunjukkan kepercayaan diri yang kuat, mampu mengomunikasikan ide-ide yang cerdas dan dapat dipercaya. Secara logis kaitan ini menunjukkan bahwa praktik kepemimpinan tranformasional dapat menumbuhkan identifikasi masyarakat yang tercermin dalam perasaan memiliki dan bangga bernegara Indonesia.

Kepemimpinan transformasional erat kaitannya dengan keteladanan, seorang pemimpin harus memiliki karakter baik dalam dirinya. Karakter baik dalam setiap fitrah manusia merupakan perwujudan nilai agama yang tertanam dalam iman, yang dilakukan dengan segenap anggota badan. Agama islam telah berupaya menjadi solusi dari pencarian keteladanan tersebut. Fitrahnya, karakter manusia akan mengikuti agamanya, maka hal yang paling tepat dikatakan saat ini adalah meneladani baginda Rosulullah SAW.

Dalam satu bulan ini hal yang sudah saya dilakukan?

Sebagai seorang pemuda pijakan keteladanan kepemimpinan dari Rosulullah SAW dalam tuntutan berkontribusi bagi pembangunan nasional. Pesannya adalah sebagai rakyat hendaknya mengedepankan prinsip (alqiyadah wa-jundiyah) dalam bernegara. Suatu saat pemuda yang merupakan generasi penerus akan menjadi pemimpin dalam Negara ini. Maka cerminan dari perilaku masyarakat yang baik akan berbuah manis saat pemuda tersebut giliran jadi pemimpin.

Bagi saya, rasa memiliki dan mencintai Negara akan begitu indah ketika kita mulai mencintai diri sendiri. Kepemimpinan ini dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga kita, dan setelahnya berdampak baik bagi bangsa dan Negara. Ini konsekuensi logis dari kebaikan yang kita lakukan. Kesederhanaan dengan meneladani kepemimpinan rosulullah telah memberikan motivasi dan kekuatan untuk berkontribusi kecil dan insyallah berdampak maslahat besar. Mulai memunculkan rasa kepedulian dalam diri kita. Sebagai ketua tim dari pengembangan karakter anak muda, tujuan mulia mengupayakan anak belajar dan bermoral dengan mengembalikan motivasi belajar anak sesuai fitrahnya.

Bagian dari realisasi kegiatan di atas, akhirnya kami membentuk sebuah lembaga bimbingan belajar privat, dengan anggota managemen sebanyak 10 (sepuluh) orang. Atas dasar prinsip kepedulian, lembaga ini diprogram berdasarkan nilai kebersamaan dan kekeluargaan. Kemudian kami beri nama “baitul fikri” yang menunjuk saya sebagai ketuanya. Dalam perjalanan yang seumur jagung, alhamdulillah semua pihak dapat bekerja dengan baik. Hal ini membuktikan perlunya prinsip kepemimpinan transformasional dalam jiwa kita.

Kepemimpinan tranformasi ditumbuhkan dengan rasa memiliki diri dan peduli. Mulailah mengenali diri sendiri, potensi yang dimiliki dan mengusahakan secara optimal agar keberhasilan dicapai dengan potensi diri tersebut. Saat ini di usia mudaku yang berjiwa sederhana, saya berusaha meyakinkan kemampuan diri. tak banyak yang dilakukan untuk mendapatkan hasil yang besar.

Selayaknya pemuda yang berjiwa seperti Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh pergerakan nasional lainnya, mengambil pelajaran yang baik. Tatkala polemik bangsa telah menjadi lagu harian belaka. Peristiwa acuh menjadi biasa dalam jiwa muda sebagian pemuda kita. Sehingga dengan malu kita berfikir bahwa pemuda akan susah sekali menerapkan teori kepemimpinan transformasional ini nantinya. Jika budaya serba  instan ini terus berlangsung, maka alamat bangsa ini akan celaka.

Proses pengkaderan dalam kepemimpinan transformasional menjadi penting. Dengan bangga saya mengatakan apa yang kami lakukan seperti terurai diatas merupakan contoh pembelajaran dalam memanagemen bangsa. Proses pengkaderan yang tidak instan hanya dengan belanja politiknya, lagian proses ini dituntut kerja nyata dari dasar bangunannya. Seraya belajar dan bekerja kita juga berusaha memberikan keteladanan diri dengan karakter kita. Sungguh sebagai muslim saya mengatakan dalam diri Rosulullah itu terdapat teladan yang baik. Selayaknya kita semua meneladani beliau sehingga dengan keteladan ini karakter jiwa dan bangsa akan muncul kembali.

Uraian persoalan bangsa tak hanya sebatas kepemimpinan saja, melainkan pada aspek anggotanya juga. Sebagai anggota tentunya harus bersikap baik pada pemimpinnya, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan saling tenggang rasa. Seburuk-buruknya pemimpin kita, harus tetap kita hargai. Dengan sikap menghargai ini, sebagai anggota kita akan mendapat karma yang baik hingga pada suatu saat giliran kita yang memimpin.

Banyak hal yang dapat dilakukan sebagai pemuda. Salah satunya berperan aktif dalam menjalankan fungsi mahasiswa. Sebagai generasi penerus bangsa tentunya harus menyiapkan bekal yang  cukup untuk melanjutkan estafet kepemimpinan nasional. Sebagai kontrol sosial dari kebijakan pemerintah, pemuda hendaknya bersikap arif dan bijaksana, bersikap baik dan berjiwa intelektual. Dan sebagai agen perubahan, pemuda jika dikaitkan dengan dobrakan pembaharuan bangsa, tentunya harus siap jika suatu saat upayanya berhasil dan jadilah pengemudi dari perubahan tersebut

Kepemimpinan tranformasional yang merupakan modifikasi dari pemimpin kharismatik ini besar harapannya dapat melekat dalam jiwa pemuda. Sehingga suatu saat nanti dapat diaktualisasikan dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan dalam bayangan pembelajaran saja.