Jauh sebelum Baghdad dihancurkan oleh
pesawat tempur dan tank-tanknya Amerika, ini merupakan sebuah kota dengan
peradaban maju di dunia, kota metropolitan yang menakjubkan. Setiap malam ketika
tenggelamnya Matahari di kota ini, kegelapan segera menyelimuti. Seorang
bernama Jahim yang juga merupakan tetangga Abu Nawas, memasang lenteranya di
pinggir jalan depan rumahnya. Lentera itu begitu tampak benderang ketika di
kiri dan kanannya belum terpasang
lentera lainnya. Setelah memandangi lenteranya sejenak, Jahim pun masuk ke
rumah.
Malam terus berlarut, dan
lentera-lentera para tetangga Jahim satu demi satu dipasang di tepi jalan yang
sama, sehingga membuat pinggiran jalan bermandikan cahaya. Dan kini lentera
jahim tidak lagi menjadi lentera yang paling benderang. Cahayanya justru nampak
redup dibanding lentera milik
tetangganya yang hidupnya jauh lebih makmur ketimbang si Jahim. Barangkali
karena Jahim sangat bangga dengan lenteranya, maka beberapa saat kemudian ia
keluar untuk melihat kembali lenteranya. Ternyata sinar lenteranya nyaris
seperti cahaya kunang-kunang ditelan semburat cahaya lentera para tetangganya.
“Kurang ajar” umpatnya dalam hati, “ini
gara-gara lentera orang-orang kaya sialan ini”. Segera diraupnya batu-batu
sebesar kepalan tangannya, lalu dilemparinya lentera tetangganya tersebut.
Bunyi ledakan lentera tetangganya membuat penghuni mereka segera keluar untuk
melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka ketika menyaksikan
lentera-lentera mereka sudah berantakan dilempari batu. Beberapa orang
menyergap Jahim dan mulai memukuli dirinya.
Mendengar suara gaduh di sekitar
rumahnya. Abu Nawas segera keluar rumah dan dilihatnya orang ramai mengeroyok Jahim.
Dia segera berteriak untuk menyadarkan tetangganya agar tidak main hakim
sendiri. Setelah keadaan mereda Abu Nawas diceritakan pasal pengeroyokan
tersebut. Abu nawas pun berkata “Jahim, kalau engkau ingin lenteramu tampak
lebih terang dibanding lentera yang lain, jangan padamkan lentera lain itu,
tetapi gantilah lenteramu dengan yang lebih besar”
Kisah ini menyadarkan kita akan
pentingnya kerukunan. Dan Abu Nawas juga mengajarkan pentingnya persaingan yang
sehat dan sikap jujur. Barangkali kebanggaan diri dan kesombongan telah
membutakan pentingnya kebersamaan. Inilah yang kemudian patut ditanyakan kepada
para calon presiden mahasiswa saat ini. Sungguh apa yang menyertai
keinginannya? Persaingan dan adu pendapat merupakan cara terbaik dalam
merumuskan kebenaran, Namun sekali lagi ini bukanlah nilai kemenangan. Sebuah
kemenangan dapat ditempuh dengan berbagai cara, baik dengan cara terpuji maupun
cara yang curang. Sebagai mahasiswa Unib tentu mengharapkan proses Pemira (Pemilihan
Umum Raya) Presiden dan Wakil Presiden KBM dapat berjalan dengan lancar, jujur,
dan semua pihak dapat berlapang dada kalah ataupun menang.
Ego manusia, memang menyebabkan
seseorang bisa menganggap dirinyalah yang paling benar, dan itu tidaklah selalu
salah. Sebab dengan egolah kita punya kepercayaan diri. Namun, ego yang
dikendalikan nafsu, semisal gengsi dan sombong tadi, menyebabkan orang tak lagi
berfikir jernih. Hanya egolah yang dapat membebaskan diri dari kungkungan nafsu
dan materilah yang mampu menangkap kebenaran sejati. Kembali saya mengharapkan
calon presiden KBM Unib dapat “memerdekakan” diri, terbebas dari kepentingan
pribadi dan sikap mau menang sendiri.
Kita kembali merasa miris dengan kisah tragis “pencekikan” Rektor
hanya karena persoalan pemira dan jangan sampai ini terulang kembali. Jalannya
demokrasi ditataran mahasiswa Unib memang menarik untuk diikuti, karena memang
dalam prosesnya berbagai kepentingan (layaknya sebuah Negara) akan mencoba
mengadu keberuntungan. Maka tidak heran setiap orang berlomba ingin jadi
Pemangku Eksekutif tertinggi di Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Unib. Dan
kalaulah ini menjadi unjuk kepentingan golongan, jangan heran setiap periode
kepengurusannya upaya kerja dan usaha akan terpaku pada alur yang sama. Demi
kepuasan golongan tertentu saja.
Golongan lazimnya disini berupa
organisasi-organisasi mahasiswa, internal maupun eksternal, mempunyai interest
kelompoknya masing-masing. Kepentingan sangatlah mendominasi, bahkan terkadang
ada kepentingan kelompok didalam kepentingan golongannya tersebut. Hal ini
ditandai dengan sikap pembelaan kepada kemapanan (status quo) yang juga simbol dari
kestatisan, sedangkan sikap kritis merupakan antikemapanan simbol dari
dinamika dan keterbukaan. Para pembela status
quo lazimnya punya kepentingan pribadi atau kelompok diri. Untuk semua itu,
mereka menciptakan sistem yang dipertahankan semaksimal mungkin, kalau perlu
dengan tangan besi, demi kepentingan diri dan “kelompok”nya. Karena itu pembela
status quo adalah orang-orang yang
berada dalam belitan kepentingan. Akibatnya, pemikiran mereka terstruktur oleh sistem
yang diciptakan, atau berada dalam tekanan kepentingan kelompok. Sehingga
setiap tindakan dan pengambilan keputusan yang dilakukan akan selalu
disesuaikan dengan sistem dan kepentingan kelompok.
Fenomena inilah yang kemudian menjamur
dari calon presiden mahasiswa, terlalu besar dominansi kepentingan dan
egoisitas golongan. Ini merupakan upaya pemanfaatan mahasiswa sebagai salah
satu alat yang dapat diperankan dalam catur perpolitikan lokal di daerah ini
nantinya (2012). Sekedar menegaskan! mahasiswa Unib tidaklah butuh sikap
seperti Jahim yang cinta akan kesombongan, keserakahan, dan kepentingan diri
maupun golongannya. Dan tidak juga menginginkan proses pemira yang penuh dengan
kecurangan, persaingan tidak sehat dan ego nafsu belaka. Saya pikir mahasiswa
Unib butuh Presiden yang “merakyat” yaitu seorang yang arif, mengerti kebutuhan
mahasiswa, dekat dengan mahasiswa, dan tahu batasan jarak dengan birokrasi (tak
mesra dan tak berselingkuh dengannya) serta punya konsep membangun kepentingan
bersama mahasiswa unib. Presiden yang menghasilkan karya sebagai buah dari
pengorganisasian pengurus, tidak hanya sebatas kegiatan yang tak tahu jalan
kelanjutannya. Dan kusampaikan, sebagai mahasiswa belajarlah memilih pemimpin
yang logikanya masih “waras”. Mengedepankan prinsip kepemimpinan
transformasional, bukan transaksional, inilah harapanku pada presiden KBM Unib.
Dan saya yakin Lentera itu tetap benderang jika kita mampu memaksimalkan
potensi diri, tanpa mengusik ketenangan yang lain. Harapan itu masih ada!
*Penulis
merupakan menteri sosial dan politik (mensospol) BEM KBM Unib 2010/2011
