Sabtu, 17 Desember 2011

Lentera Itu Masih Ada! (Harapan tuk Presiden KBM)


 
Jauh sebelum Baghdad dihancurkan oleh pesawat tempur dan tank-tanknya Amerika, ini merupakan sebuah kota dengan peradaban maju di dunia, kota metropolitan yang menakjubkan. Setiap malam ketika tenggelamnya Matahari di kota ini, kegelapan segera menyelimuti. Seorang bernama Jahim yang juga merupakan tetangga Abu Nawas, memasang lenteranya di pinggir jalan depan rumahnya. Lentera itu begitu tampak benderang ketika di kiri dan kanannya  belum terpasang lentera lainnya. Setelah memandangi lenteranya sejenak, Jahim pun masuk ke rumah.
Malam terus berlarut, dan lentera-lentera para tetangga Jahim satu demi satu dipasang di tepi jalan yang sama, sehingga membuat pinggiran jalan bermandikan cahaya. Dan kini lentera jahim tidak lagi menjadi lentera yang paling benderang. Cahayanya justru nampak redup dibanding  lentera milik tetangganya yang hidupnya jauh lebih makmur ketimbang si Jahim. Barangkali karena Jahim sangat bangga dengan lenteranya, maka beberapa saat kemudian ia keluar untuk melihat kembali lenteranya. Ternyata sinar lenteranya nyaris seperti cahaya kunang-kunang ditelan semburat cahaya lentera para tetangganya.
“Kurang ajar” umpatnya dalam hati, “ini gara-gara lentera orang-orang kaya sialan ini”. Segera diraupnya batu-batu sebesar kepalan tangannya, lalu dilemparinya lentera tetangganya tersebut. Bunyi ledakan lentera tetangganya membuat penghuni mereka segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya mereka ketika menyaksikan lentera-lentera mereka sudah berantakan dilempari batu. Beberapa orang menyergap Jahim dan mulai memukuli dirinya.
Mendengar suara gaduh di sekitar rumahnya. Abu Nawas segera keluar rumah dan dilihatnya orang ramai mengeroyok Jahim. Dia segera berteriak untuk menyadarkan tetangganya agar tidak main hakim sendiri. Setelah keadaan mereda Abu Nawas diceritakan pasal pengeroyokan tersebut. Abu nawas pun berkata “Jahim, kalau engkau ingin lenteramu tampak lebih terang dibanding lentera yang lain, jangan padamkan lentera lain itu, tetapi gantilah lenteramu dengan yang lebih besar”
Kisah ini menyadarkan kita akan pentingnya kerukunan. Dan Abu Nawas juga mengajarkan pentingnya persaingan yang sehat dan sikap jujur. Barangkali kebanggaan diri dan kesombongan telah membutakan pentingnya kebersamaan. Inilah yang kemudian patut ditanyakan kepada para calon presiden mahasiswa saat ini. Sungguh apa yang menyertai keinginannya? Persaingan dan adu pendapat merupakan cara terbaik dalam merumuskan kebenaran, Namun sekali lagi ini bukanlah nilai kemenangan. Sebuah kemenangan dapat ditempuh dengan berbagai cara, baik dengan cara terpuji maupun cara yang curang. Sebagai mahasiswa Unib tentu mengharapkan proses Pemira (Pemilihan Umum Raya) Presiden dan Wakil Presiden KBM dapat berjalan dengan lancar, jujur, dan semua pihak dapat berlapang dada kalah ataupun menang.
Ego manusia, memang menyebabkan seseorang bisa menganggap dirinyalah yang paling benar, dan itu tidaklah selalu salah. Sebab dengan egolah kita punya kepercayaan diri. Namun, ego yang dikendalikan nafsu, semisal gengsi dan sombong tadi, menyebabkan orang tak lagi berfikir jernih. Hanya egolah yang dapat membebaskan diri dari kungkungan nafsu dan materilah yang mampu menangkap kebenaran sejati. Kembali saya mengharapkan calon presiden KBM Unib dapat “memerdekakan” diri, terbebas dari kepentingan pribadi dan sikap mau menang sendiri.
Kita kembali merasa  miris dengan kisah tragis “pencekikan” Rektor hanya karena persoalan pemira dan jangan sampai ini terulang kembali. Jalannya demokrasi ditataran mahasiswa Unib memang menarik untuk diikuti, karena memang dalam prosesnya berbagai kepentingan (layaknya sebuah Negara) akan mencoba mengadu keberuntungan. Maka tidak heran setiap orang berlomba ingin jadi Pemangku Eksekutif tertinggi di Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Unib. Dan kalaulah ini menjadi unjuk kepentingan golongan, jangan heran setiap periode kepengurusannya upaya kerja dan usaha akan terpaku pada alur yang sama. Demi kepuasan golongan tertentu saja.
Golongan lazimnya disini berupa organisasi-organisasi mahasiswa, internal maupun eksternal, mempunyai interest kelompoknya masing-masing. Kepentingan sangatlah mendominasi, bahkan terkadang ada kepentingan kelompok didalam kepentingan golongannya tersebut. Hal ini ditandai dengan sikap pembelaan kepada kemapanan (status quo) yang juga simbol dari  kestatisan, sedangkan sikap kritis merupakan antikemapanan simbol dari dinamika dan keterbukaan. Para pembela status quo lazimnya punya kepentingan pribadi atau kelompok diri. Untuk semua itu, mereka menciptakan sistem yang dipertahankan semaksimal mungkin, kalau perlu dengan tangan besi, demi kepentingan diri dan “kelompok”nya. Karena itu pembela status quo adalah orang-orang yang berada dalam belitan kepentingan. Akibatnya, pemikiran mereka terstruktur oleh sistem yang diciptakan, atau berada dalam tekanan kepentingan kelompok. Sehingga setiap tindakan dan pengambilan keputusan yang dilakukan akan selalu disesuaikan dengan sistem dan kepentingan kelompok.
Fenomena inilah yang kemudian menjamur dari calon presiden mahasiswa, terlalu besar dominansi kepentingan dan egoisitas golongan. Ini merupakan upaya pemanfaatan mahasiswa sebagai salah satu alat yang dapat diperankan dalam catur perpolitikan lokal di daerah ini nantinya (2012). Sekedar menegaskan! mahasiswa Unib tidaklah butuh sikap seperti Jahim yang cinta akan kesombongan, keserakahan, dan kepentingan diri maupun golongannya. Dan tidak juga menginginkan proses pemira yang penuh dengan kecurangan, persaingan tidak sehat dan ego nafsu belaka. Saya pikir mahasiswa Unib butuh Presiden yang “merakyat” yaitu seorang yang arif, mengerti kebutuhan mahasiswa, dekat dengan mahasiswa, dan tahu batasan jarak dengan birokrasi (tak mesra dan tak berselingkuh dengannya) serta punya konsep membangun kepentingan bersama mahasiswa unib. Presiden yang menghasilkan karya sebagai buah dari pengorganisasian pengurus, tidak hanya sebatas kegiatan yang tak tahu jalan kelanjutannya. Dan kusampaikan, sebagai mahasiswa belajarlah memilih pemimpin yang logikanya masih “waras”. Mengedepankan prinsip kepemimpinan transformasional, bukan transaksional, inilah harapanku pada presiden KBM Unib. Dan saya yakin Lentera itu tetap benderang jika kita mampu memaksimalkan potensi diri, tanpa mengusik ketenangan yang lain. Harapan itu masih ada!

*Penulis merupakan menteri sosial dan politik (mensospol) BEM KBM Unib 2010/2011

Minggu, 11 Desember 2011

PRIORITASKAN KESEHATAN MASYARAKAT BENGKULU



Kesehatan merupakan salah satu pilar pembangunan bangsa, kebutuhan akan ketersediaan jaminan kesehatan sangatlah dirasakan primer bagi masyarakat. Kebutuhan  kesehatan yang dirasakan rakyat selama ini tidak memadai, baik tenaga medisnya maupun fasilitas medisnya. Penguasa selama ini sibuk korupsi dan melupakan pelayanan kesehatan yang baik bagi masyarakat. Selama ini pelayanan di Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya di bawah standar kelayakan. Seperti tempat tidur pasien yang tidak layak, gudang obat yang tidak terawat, dan tidak lengkapnya peralatan medis.
Upaya pelayanan dan ketersediaan tenaga medis yang handal di provinsi Bengkulu sangatlah penting guna menunjang angka harapan hidup dan jaminan kesehatan bagi masyarakat, tidaklah kemudian masyarakat miskin harus membayar ’mahal’ biaya pengobatannya, demikian juga biaya obat yang tinggi, padahal ini semua telah dijamin oleh Negara. Pembangunan fasilitas medis dan Rumah sakit di Bengkulu hanya mengorbankan pekerja dan rakyat miskin, lalu apakah kita harus bangga tatkala keringat, darah, nanah, bisul dan penyakit lainnya menyerang para buruh dan pekerja yang mereka peroleh akibat pekerjaannya, sementara pelayanan kesehatan jauh dari memuaskan dengan fasilitas yang minim dan biaya perobatan dan pengobatan yang mahal.
Masyarakat patut mengapresiasi jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) yang merupakan program pemerintah pusat dan disalurkan di daerah, ataupun pilar kesehatan masyarakat di kotamadya, tetapi amat disayangkan dengan alasan keterbatasan anggaran program jaminan kesehatan ini dirasakan setengah hati dan terlanjur dijanjikan sehingga ini pun belum menyentuh keseluruhan masyarakat yang memang membutuhkan jaminan kesehatan, masalahnya ada juga mental dokter yang berorientasi pada kantong sendiri, ataupun masyarakatnya sendiri yang takut berobat ke rumah sakit. Jaminan kebutuhan gizi dan pola hidup sehat merupakan salah satu solusi dari persoalan kesehatan.
Setiap masyarakat harus menjaga pola hidup sehat dengan ketersediaan gizi yang cukup dan olahraga yang teratur, kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dimulai dari setiap pribadi itu sendiri, bukankah menjaga kesehatan jauh lebih murah ketimbang mengobati penyakit. Dengan demikian kebutuhan akan ahli gizi, ataupun fasilitas kebugaran dibutuhkan sinergisitas dan linear dengan upaya jaminan kesehatan masyarakat. Selayaknya sosialisasi dan pembiasaan diri dapat digencarkan atau digalakkan dalam upaya menjaga dan menjadikan rutinitas dalam kesehatan diri. Perlu usaha yang keras agar pembenahan dan perbaikan kesehatan berjalan dengan baik. Semua sumber daya harus dikerahkan dan dibebaskan dan dinetralisir dari berbagai kepentingan. Mari tuntaskan, lawan, dan kita bisa.

(Publikasi Harian rakyat Bengkulu pojok ”Aspirasi dan Solusi” 29 Januari 2011)

Kesungguhan Bengkulu Sikapi Kelangkaan BBM



Bukan rahasia kelangkaan BBM merupakan hal biasa di provinsi Bengkulu, tetapi kita tidak perlu mengkaitkan kelangkaan BBM di Bengkulu dengan upaya pemerintah membatasi premium untuk kendaraan pribadi pada maret nanti. Kelangkaan ini murni merupakan problem daerah dan sedikit dampak nasional yang dihadapi. Kita mengapresiasai Pemerintah tanggap dengan pembatasan jumlah penggunaan volume premium bagi mobil dan motor, tetapi amat disayangkan kebijakan ini belum dirasakan dampaknya langsung untuk sudut pelosok di daerah ini. Apalagi ditambah dengan kepanikan akan kebijakan pembatasan premium yang segera diberlakukan, ini akan menambah kebingungan dan penderitaan disisi rakyat kecil.

Menatap Indonesia tanpa subsidi BBM, Benar – Benar Mengerikan. Sesuai rencana pemerintah membatasi penggunaan premium di bulan maret 2011 yang semula direncanakan berlaku di awal tahun ini. kita patut mengapresiasi dan berbaik sangka dengan kebijakan pemerintah yang merupakan hasil dari amanat Undang – Undang pembahasan wakil rakyat dan pemerintah. Sejatinya tahapan pembatasan ‘premium’ ini dilakukan secara bertahap dengan penyesuaian wilayah yang dicakupi. Namun adakah pemerintah kita lupa akan resiko dari tingkat kepanikan dan dampak kenaikan harga bahan pokok yang mencekik rakyat nantinya. Bayangkan saja harga beras nantinya, cabei dan kebutuhan lainnya. Belum lagi kita berbicara para orang tua yang beraktivitas lebih menggunakan kendaraan pribadi mereka dan “terpaksa” harus menambah energi untuk mengeruk kantong yang lebih dalam bagi pengeluaran bulanannya setelah ini di berlakukan.

Dari pandangan mahasiswa bukankah lebih baik pemerintah pusat dengan alasan beban biaya subsidi yang tinggi mengoptimalkan sector potensial yang selama ini jelas – jelas tidak banyak dirasakan manfaatnya bagi rakyat Indonesia, berapa banyak perusahaan asing yang dengan enaknya mengeruk kekayaan alam Indonesia tanpa memikirkan kelangsungan dan keberlangsungan sumber daya alam yang ada. Agaknya pemerintah perlu belajar dengan Negara tetangga kita untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Segera tinjau kembali kesepakatan dengan perusahaan – perusahaan asing yang tak “berkontribusi” langsung bagi rakyat, misalnya saja Freeport di papua, atau Newmont di Nusa tenggara. Kegagapan dan kecemasan pemerintah  akan penolakan dengan kebijakan ini, nampaknya telah diantisipasi secara “licik” antar kroninya dalam Gedung wakil rakyat. Terbukti dengan penambahan anggaran “BBM” di APBN 2011 berkisar 90 Triliiun yang awalnya pada 2010 hanya 81 Trilliun, bukankah sebaiknya pemerintah dengan kesungguhan dan kebijakan berpihak pada rakyat tidak menjadikan ini sebagai kebijakan politisasi yang kita khawatirkan akan coba dipolitisir menjadi jargon di 2014.

Permasalahan pembatasan bahan bakar di provinsi bengkulu tidak akan selesai selama kendaraan bermotor yang digunakan akan tetap “berkembang biak” dengan pesatnya. Kita menginginkan pemerintah daerah dapat mengeluarkan regulasi peraturan yang jelas dengan pembatasan dan izin kendaraan berbahan bakar minyak, disamping dampak positif sumbangsih pertumbuhan ekonomi kita perlu kembali menyadari ada masalah kemacetan dan kepadatan volume kendaraan yang selama ini terjadi, polusi udara, hingga ada juga masalah kelangkaan bahan bakar minyak yang terjadi sampai masyarakat di daerah ini harus antre yang lumayan lama dan panjang. Kita menawarkan pembangunan jalur sepeda pada setiap jalan di Bengkulu, dengan dampak kesehatan yang akan lebih baik, dapat juga mengurangi kemacetan dan kepadatan kendaraan, tentunya dapat mengurangi ketergantungan dan melakukan penghematan bahan bakar fossil. Tetapi besar keraguan untuk jalur sepeda, bagaimana mau membangun jalur sepeda kalau jalannya sendiri tidak kunjung membaik.

Pemerintah perlu menyadari akan pentingnya kontribusi pembangunan dan pengembangan bahan bakar alternatif yang di galakkan terutama di bengkulu ini dengan tunjangan bahan baku organik yang melimpah. Kesadaran akan penghematan energi dan kesungguhan kebijakan berpihak pada rakyat menjadi alasan penting yang kita permasalahkan. Selama semua pihak dapat menyikapi dan mempersiapkan diri secara arif tentu kita dapat mengatasi ini dengan baik dan pembengunan akan tetap berkembang.

Pemuda KULIAH ‘bukan hanya’ UNTUK JADI PNS (PEWARIS NEGERI SEJATI)


 
Setiap orangtua tentu mengharapkan anaknya menjadi “orang”. Salah satu kesempatan untuk menjadi “orang” di negeri ini adalah dengan pendidikan yang tinggi. Sekolah dilakukan oleh setiap orang untuk mendapatkan kesempatan belajar atau mendapatkan pendidikan yang layak bagi kehidupannya. Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam mengikuti dan mendapatkan kesempatan belajar atau pendidikan sebagaimana telah diamanatkan Undang – Undang Dasar (UUD 1945). Pendidikan didasarkan dalam upaya peningkatan kualitas dirinya, hal yang penting adalah menciptakan sumber daya yang berkualitas dengan pendidikan sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan dapat berbuat lebih dalam pergulatan global.
Bung Karno pernah mengatakan kalau bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya, namun saat ini kalau kita mencari sosok pahlawan sejati agaknya terlalu sulit bahkan untuk ukuran seorang guru yang pernah dikatakan sang pahlawan tanpa tanda jasa susah untuk mencari jiwa kepahlawanannya saat ini. Seorang guru menjadi profesi komersil yang dapat di”gadai”kan dengan pertaruhan lembaran kertas “merah” dan “biru” di kantongnya. Kita sepatutnya berterima kasih kepada seorang guru yang selama ini telah mendidik, mengayomi, dan mengajar para generasi muda kita dengan tulus.
Sakarang kita mengajak melihat realita kuliah yang sesungguhnya, kecurangan dan ketidakadilan merajai pemikiran mahasiswa saat ini, miris sekali melihat sang generasi tangguh penerus bangsa ini bertipe “murahan”. Pola pikir yang salah dari mahasiswa terkadang telah dimanfaatkan dengan optimal oleh dosen kita untuk mengintimidasi dan ujung – ujungnya adalah ancaman terhadap nilai yang diberikan. Tidak satupun mahasiswa yang menampik tujuan mereka kuliah adalah demi menuntut ilmu dan membahagiakan orang tuanya. Dan perlu kita catat sekali lagi bukannya menutut nilai dari dosennya.
Bukanlah takdir, inilah alasan pembenaran dari semua ini. Seseorang yang mendapat nilai tinggi bukanlah karena sepenuhnya kepandaiannya, tetapi melainkan karena banyaknya faktor kongkalikong yang ada pada dunia kampus saat ini. Mulai dari MPO (mencari perhatian orang/dosen), faktor ekonomis, terpandangnya orang tua, dan lainnya. Memang terkadang kita merasa ini sudah keterlaluan dengan berbagai permasalahan yang ada di kampus oleh dosen terhadap mahasiswa saat ini. Ketidakadilan inilah yang menjadi landasan kita. Banyak kemudian dosen yang memberikan nilai berdasarkan faktor kedekatan dan terpandangnya orang tua si mahasiswa. Belum lagi banyak dari mahasiswa yang seolah kerbau ditarik hidungnya menuruti apa kehendak dari sang pendidik. Tanpa keberanian untuk melawan karena ketakutan yang berlebihan
Mahasiswa yang cupu juga telah mengkerdilkan arti sebuah pendidikan. Mereka hanya menerjemahkan bahwa pendidikan adalah proses belajar dikelas. Disiplin ilmu yang mereka ambil telah menyempitkan pengetahuan mereka sendiri sehingga terjadilah dikotomi pemahaman yang berkembang. Paradigma yang berkembang adalah mahaiswa hanya diajarkan pada sebuah taklik sang dosen. Mahasiswa yang berjurusan eksakta akan enggan mempelajari ilmu – ilmu sosial begitupun sebaliknya. Karena pada dasarnya mereka hanyalah bercita – cita sebagai pewaris negeri sejati (PNS) ”Pewaris Negeri Sejati”. Namun sangat ironis dengan realita yang ada di kehidupan saat ini. Mahasiswa dengan predikat cumlaude tidaklah jaminan mendapatkan pekerjaan yang layak ataukah ini yang menjadikan pemikiran setiap mahasiswa menjadi kerdil. Karenanya sebagai mahasiswa seharusnya dapat membenahi dan membuat terobosan karya yang dapat meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat kita. Survey yang dilakukan Profesor termuda Universitas Indonesia, Prof. Eko mengatakan: ”....salah satu yang membuat negara ini miskin adalah banyaknya pegawai negeri sipil”. Betapa miris perasaan kita semua melihat wajah negeri ini dipenuhi dengan masyarakat yang serba ketergantungan dan mengandalkan gaji sebagai pegawai negeri untuk kebutuhan hidupnya. Sambung menyambung pinjaman menjadi lagu harian mereka.
Dalam paradigma sukses yang berkembang di masyarakat saat ini adalah sukses menjadi PNS (pewaris negeri sejati). Kita mungkin merasa benar tanpa berpikir panjang. Masyarakat kita haruslah mengerti dan memahami bahwa kesuksesan bukanlah sebuah kebetulan, melainkan proses perjuangan hidup. Tetapi bayangkan dari negara ini lebih dari 50% Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya untuk biaya rutin dengan kata lain biaya gajian buat PNS. Sekarang mari kita lihat berapa sisa alokasi anggaran yang diperuntukkan infrastruktur yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat, seperti: jalan, sekolah dan rumah sakit, ataupun kebutuhan mendesak lainnya. Tidaklah seberapa dan ini hanyalah ”sisa” dari biaya rutin yang dikeluarkan. Di provinsi ini sudah 60% lebih dari APBD dialokasikan untuk belanja rutin, hingga membuat negeri ini tanpa pembangunan. Infrastruktur yang tidak terawat, jalan penuh berlobang, dan banyaknya pekerjaan pembangunan yang terbengkalai.
Realita yang kebobrokan moral yang terjadi di bangku kuliah telah merambah kedunia nyata yang berakhir pada kepalsuan identitas mahasiswa, saat kuliah dengan mental bejat kemudian setelah menggapai gelar serjana pun tetap melakukan ulah bejat yang menodai arti pendidikan tinggi dengan memberi “pelicin dalam pencarian kerja”, bayangkan jika setiap serjana berpikiran bahwa uang sogokkan adalah solusi awal dalam meraih “kesuksesan” tentu negeri ini akan menjadi negeri objek azab dari tuhanny. Dan kesemuaannya merupakan krisis kepercayaaan diri dan kemampuan lulusan serjana. Inilah akibat dari ketidakjujuran diri. Bagi penguasa saat ini merupakan hal lumrah untuk memetik hasil dari panen “pohon duit” proses pelaksanaan Tes CPNS. kebobrokan moral daerah ini bukan rahasia kalau perekrutan PNS (Pewaris Negeri Sejati) dijadikan ajang dagang sapi dan pelelangan ikan – ikan pemakan darah. tes CPNS yang di selenggarakan pemerintah bekerja sama dengan sebuah universitas terkemuka di negeri ini, tetapi jaminan ini tidaklah cukup karena universitas tersebut hanyalah nama pinggiran yang perjalanannya hanya kebohongan dan pembodohan masyatakat negeri ini. Kawal penyelenggaraanya harapannya adalah kerjasama yang dilakukan adalah benar – benar dengan universitas yang jelas. Dan yang benar adalah upaya kerja sama dengan universitas di daerah ini yang terbukti kompeten dan kapabel dalam kejujuran pelaksanaan perekrutan pegawai. Kalau ada yang lebih dekat dan baik, kenapa harus yang jauh dan tidak jelas.

Mahasiswa sudah seharusnya memahami alokasi anggaran pendidikan yang katanya 20%, tetapi dalam teknis pembagiannya penuh dengan intrik politisasi dan bukannya mengenai infrastruktur yang selama ini mendesak dan  harus segera diperbaiki. Pemerintah selama ini menjadikan peluang PNS sebagai ladang korupsi dan praktek dagang sapi yang mewajibkan semua yang ingin lulus harus bayar sogokkan. Sungguh ironis dengan masyarakat kita yang sampai saat ini harus berjuang demi kelangsungan pendidikannya. Memang ada program sekolah gratis, tetapi sekarang ini untuk sekolah yang benar – benar menggratiskan biaya sekolah itu nihil dengan hasil nol besar.

Persoalan PNS tidak hanya sampai disini, begitu banyak instansi dan kantor di negeri ini telah menjadi sarang ”pengangguran berkantor”. Tidak ada kerjaan dan hanya mengisi absensi dan kemudian saat gajian tiba mendapat bayaran dari penderitaan rakyat. Rakyat menderita dengan dibebani tuntutan negara dalam pembayaran pajak yang pada akhirnya tetap dikorupsi si Gayus begitupun beban dan pembiayaan hidup dengan harga yang tinggi yang tidak kunjung mendapatkan solusi kesejahteraan dan  menjadi perhatian dari pemerintah. Nah mari kita bercerita tentang keadaan kantor dengan ”pengangguran bergajinya” di beberapa kantor pemerintah daerah ini, banyak kegiatan yang diisi hanya dengan bermain gaplek atau kartu bridge inilah wajah kantor yang selayaknya memberikan pelayanagn kepada masyrakat. Dalih kekurangan orang dan pegawai telah menjadi alasan utama penyelenggaraan tes CPNS, tetapi bisa kita maknai ini hanyalah alasan semu dan dalih bodoh pemerintah untuk mendapatkan duit sogokkan yang diberikan. Lebih lanjut, pelayanan yang diberikan sangat jauh dari memuaskan
Formasi yang dikeluarkan telah mendapat pesanan dari pelamar kerja, saya ungkapkan pengakuan dari pencari kerja yang secara khusus memesan formasi untuk kesesuaian formasi dengan serjana yang dimilikinya. Kita katakan kita tidak hanya menuntut transparansi proses pelaksanaan tes, mulai dari universitas yang ditunjuk membuat dan memeriksa soal, kesesuaian formasi yang dibuka dalam menunjang pembangunan daerah, pelaksanaan tes sampai kepada transparansi pengumuman penerimaan, yang meliputi diumumkannya kunci jawaban, dan perangkingan yang jelas dari hasil pelaksanaan tes. Tetapi Hal terpenting dari masalah ini adalah bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan yang dapat mengurangi pengangguran di negeri ini. Karena kita mengetahui bahwa setiap tahunnya ribuan lulusan serjana yang dicetak di setiap universitas daerah ini dan siap mencari pekerjaan untuk kemudian yang tidak dapat kerja seakan stress berat dan putus harapan.
Perusahaan di negeri ini menyertakan syarat pendidikan dengan strata khusus dalam pelamaran pegawai baru. Setali tiga uang dengan itu, pemerintah kita juga tidak mau kalah saing dengan itu semua. Dengan semangat keuntungan yang besar kemudian pemerintah kita dalam perekrutan CPNS terutama pemerintah daerah membuka sebesar – besarnya formasi yang direkrut, meskipun formasi ini tidak terlalu dibutuhkan daerah tersebut. Selayaknya pemerintah di setiap provinsi mencontoh apa yang dilakukan di Gorontalo dan NAD yang menolak tambahan kuota tambahan formasi yang ditawarkan menpan (menteri pemberdayaan aparatur negara). Karena membebani APBD daerah tersebut. Akibatnya pembangunan tersendat. Beberapa provinsi menjadikan tes PNS sebagai ajang dagang sapi yang menyalahi semangat dan amanat reformasi. Mahasiswa sudah seharusnya memerankan fungsinya social control terhadap salahnya sistem ini. Bayangkan jika negeri ini yang berperan hanyalah duit (uang) di setiap lini kehidupannya. Harus ada agen of change yaitu mahasiswa yang melakukan reform kehidupan bermasyarakat kita.
Tersadar atau malu – malu mengakui khilaf yang tertanam dalam urat dan darah kita selama ini. Sudahkan negeri ini terbebas dari “kebutaan”? janganlah kemudian para pemuda di negeri ini menyia – nyiakan pendidikan mereka. Karena hanya 14% dari pemuda di negeri ini yang bisa menikmati pendidikan. Selama ini kita hanya dibutakan kesenangan duniawi tanpa memanusiakan pendidikan di setiap tempat dan kesempatan. Anak – anak hanya dituntut sekolah setinggi – tingginya oleh para orang tuanya. Kemudian segala hal dan cara dihalalkan demi menyekolahkan anaknya. Malang nasib bangsa ini, meskipun telah sekolah tinggi tetapi pemikiran dan kesadaran tidaklah membaik. Pendidikan hanya memenuhi tuntutan pekerjaan yang selama ini bersistem gaya pasar. Obral harga dan penuh intrik “penjual” maupun “pembeli” ciri khas sistem kita.
Pemahaman kecil yang perlu diperhatikan sebagai mahasiswa adalah kita kuliah bukanlah untuk mendapatkan kerja, tetapi bagaimana kita berkontribusi bagi bangsa ini dengan menciptakan lapangan kerja. Idealisme dan netralisme mahasiswa benar – benar diuji dengan berbagai desakan kepentingan yang diberikan baik oleh dosen maupun birokrasi untuk kepentingan politik dan yang menguntungkan pemerintah. Daya kritis mahasiswa selama ini belumlah kembali menunjukkan taringnya setelah banyaknya ketakutan dan ketidak beranian mempertanyakan hal – hal yang janggal dan merugikan kepentingan mahasiswa itu sendiri
Sekarang kita mengajak teman – teman untuk dapat berpikir luas dan cerdas, agar dapat memahami arti kuliah dan pendidikan yang sesungguhnya. Tidak kemudian menyia-nyiakan waktu mudamu hanya untuk memperburuk keadaan dan krisis di negeri ini KALAU BUKAN KITA SIAPA LAGI? KALAU BUKAN KINI KAPAN LAGI? Yang akan memperbaiki bangsa ini Engkaulah Mahasiswa dan pemuda yang memiliki semangat dan keberanian dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan

Pendidikan ini menjadi kewajiban bersama. Pemerintah dengan sistem kebijakan yang merakyat mampu mengakomodir seluruh rakyat untuk mengakses pendidikan dengan biaya rendah. Guru atau tenaga pendidik harus mampu memahami filosopis pendidikan. Serta dituntut juga kepada masyarakat luas khususnya para pemuda yang mengawali pola ukir yang bebas bukannya serba ketergantungan. Pendidikan bukanlah segala – galanya, tetapi dengan pendidikan dapat mengubah segalanya.


(publikasi Rakyat Bengkulu Desember 2010).